adalah sebuah media untuk menghabiskan waktu secara tidak percumah, hemat, mendidik, dan tidak membosankan. lebih baik kita membaca daripada tidak membaca dan berbuat yang tidak-tidak, sehingga setelah membaca, hati menjadi senang dan gembira.
Minggu, 31 Oktober 2010
sejarah cinta dan HIV/AIDS
Minggu, 24 Oktober 2010
Keberuntungan TONO bagian 2
Mencuat pertanyaan, kenapa artikel ini tidak dijadikan satu dengan “Keberuntungan Tono”? Sebuah pertanyaan yang cerdas, akan tetapi apabila Anda mempunyai pertanyaan seperti itu, Anda harus bersiap dengan dengan jawaban penulis yang lebih cerdas tentunya. Seorang manusia biasa pasti akan menjumpai dan merasakan keadaan lelah, ketika itu penulis sedang menjadi manusia biasa yang bukan manusia super, karena manusia super hanya ada dalam cerita dan hasil dari rekayasa manusia biasa, jadi bisa disimpulkan bahwa manusia super ada karena keberadaan manusia biasa yang mensuper-superkan manusia, dan sebagai penulis yang juga seorang manusia biasa wajar jika lelah dan ingin istirahat. Silahkan bagaimana Anda menanggaapinya. Semoga saja puas. Ketika kita hidup, sangat menutup kemunginan jika kita tak pernah mendapat cobaan, karena cobaan adalah sebuah ujian katanya, ketika kami sukses mengguncang panggung, kami berempat memutuskan untuk mengambil mapel musik ketika itu, padahal tak seorangpun dari kami mampu mendefinisikan kata musik, karena di instansi yang bergelut di bidang pendidikan yang ketika itu kami jalani, harus memilih salah satu pelajaran seni, antara seni rupa dan musik, tanpa pikir panjang langsung saja ambil keputusan. Sudah muncul berbagai konsep yang terbesit dihati kami, dan kami berpikir kami akan kosong untuk mapel seni musik selama satu tahun. Sangat senang bukan kepalang bahkan gembira ria saat itu, namun keceriaan sirna ketika seorang yang biasa disebut Bapak Guru (disebut Bapak Guru karena berjenis kelamin lelaki, jika berjenis kelamin Perempuan disebut Ibu Guru) berkata saya kurang suka dengan konsep yang kalian buat, tetap semangat dan tidak putus asa, walaupun sedikit terpaksa. Menyimak lagu secara acak kami lakukan setelah itu, bukan menuai hasil malah berbuah pahit, kami semakin salah arah. Meniru cara bernyanyi Ian Curtis yang sulit ditebak, tidak berhasil untuk menutupi vokalis kami yang memang tidak bisa bernyanyi. Mencoba menjadi seorang Tom Delonge juga kurang berhasil karena memang kami mempunyai kemampuan yang melebihi normal sehingga tidak normal. Sang Basswan yang memang mahir merangkai kata, iseng membuat coretan dengan pena yang hampir habis masanya, ketika telah tercipta beberapa bait mengeluh tiba-tiba seketika itu kami terkejut karena sepersekian detik sebelum mengeluh, si pena enggan mengeluarkan tinta. Hidup penuh tekanan berasa ingin kehilangan nyawa seketika itu, hingga akhirnya malaikat datang membawa pencerahan berupa pensil murah yang belum runcing dan dibutuhkan orang yang mahir dibidang meruncing pensil agar pensil tersebut mampu dipakai sebagaimana mestinya. Dengan bantuan sebuah benda tajam, kami mampu meredam emosi Sang Basswan, dan dia pun meneruskan kegiatan isengnya dengan si pensil itu. Seseorang dari kami yang bertugas memukul tetabuhan yang disebut drum membantu Sang Basswan dengan menutup matanya dan menerbangkan pikirannya ke alam mimpi. Sedangkan Sang Pemetik dawai damai membantu dengan menggerak-gerakkan jari-jemarinya pada sebuah benda yang mempunyai tabung resonansi dilengkapi beberapa dawai dengan berbagai ukuran yang berbeda, orang awam biasa menyebutnya dengan sapaan gitar. Dan saya sendiri membantunya dengan bernyanyi yang sebenarnya kurang pantas apabila disebut bernyanyi mungkin bisa disebut menggetarkan pita suara hingga muncul beberapa tangga nada yang kacau. Ketika dia sudah mantap dengan kosakata yang dia rangkai, akhirnya saya harus menyalin tulisannya yang memang sedikit tidak bagus karena kami menyebutnya sangat menyiksa mata. Setelah semua rangkaian kata berhasil disalin dengan perjuangan yang sangat panjang tentunya, kami mencari cara untuk menyanyikannya. Hari berikutnya kami sangat berbangga hati, karena lirik lagu kami yang terbaik diantara yang lainnya. Tidak hanya berbangga hati, akan tetapi juga sakit hati, karena konsep kami yang kedua juga tidak diterima. Ketika stres melanda, tukang jamu saya datangi. Alhasil stres pun hilang karena saya memesan jamu anti stres dicampur madu, anggur, dan kuning telur. Benar-benar ramuan mujarab, seketika itu stres yang melanda sirna.![]() |
| dan inilah yang terjadi jika belum mempunyai fotografer pribadi |
keanehan tetangga baru
Sabtu, 23 Oktober 2010
bukan saya itu..
Sedikit biografi kir marley and the kejawen
Pria asal kota temanggung Jawa Tengah, terlahir dengan nama Bagus Kretarta Teja Aji Utama. Memulai karier bermusiknya sejak tahun 1999 dengan band margasari tropical. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah bergabung dan membentuk banyak band reggae seperti tono band, Dongkelan Rastaman Band,supri/superior; hingga akhirnya pada tahun 2000 membentuk band yang cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia pada masa itu yaitu kir marley Rastafara.
Bersama Rastafara sempat merilis album reggae pada tahun 2005 dan Sick and Love pada tahun 2006.Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Kretarta,lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah 'Thanks For Your Love' dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.
Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band reggae lainnya adalah karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik melayu atau bahkan musik khas daerah sumatera utara dan sumatera barat.
Pada tahun 2001 kir marley Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya kir marley memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama kir marley. Maka pada tahun 2005 terbentuklah kir marley and the kejawen, dengan format band additional player. Tetapi kemudian kir marley memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya kir marley and the kejawen, yang berhasil merilis album pada tahun 2006 yaitu burnin with rasta. Pada album ke tiganya ini lah kir marley mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Canada memberikannya referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang kir marley untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali kir marley beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan kir marley ke Amerika.
Pada tahun 2007 albumnya yang ke empat berjudul best of da best di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Kemudian pada tahun 2008 kir marley kembali merilis albumnya yang terbaru bertitel Remember Me dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini KIr Marley mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur musik orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional bahkan pada album ini terdapat juga lagu-lagu dengan lirik bahasa sunda dan jawa yang semakin menambah kental unsur tradisional Indonesia dalam musik reggae.
Prestasi terbaru yang diraih oleh kir marley di penghujung tahun 2005 adalah masuknya salah satu lagu dari album ketiganya Burnin With My Rasta yaitu Jah Blessed ke dalam Album kompilasi musik dunia Putumayo World Music dengan titel Reggae Playground yang rencananya akan dirilis secara Internasional pada bulan Februari 2006. Sebagai satu-satunya wakil dari benua Asia hal ini juga tidak saja mengharumkan nama Kir Marley sendiri tetapi juga nama Indonesia di mata dunia dan khususnya Musik Reggae ala Indonesia juga dapat lebih dikenal secara Internasional.
KIR MARLEY RASTAFARA OTOBIOGRAFI
Nama :Bagus Kretarta Teja Aji Utama
Nama panggilan :Kretarta
Nama musisi : Kir Marley Rastafara
Tempat/Tgl Lahir : Temanggung / 22 Agustus 1991
http://www.facebook.com/profile.php?id=1749769268
tetap rendah hati dan tidak sombong walaupun sudah mempunyai penggemar yang dari dalam dan luar negara.
beberapa foto faforitnya, dari yang paling bahaya sampai yang ekstrim
Kamis, 21 Oktober 2010
Keberuntungan TONO

Dihadapkan pada sebuah masalah yang cukup serius ketika itu, sedikit bingung juga saat itu. Hingga sebuah jalan keluar yang sebenarnya bukan sebuah solusi. Karena jalan keluar yang dipakai menimbulkan masalah baru, hanya saja lebih kecil tingkat kesulitannya. Ketika itu sebuah kelas harus mempunyai sebuah band (kami lebih senang menyebutnya kelompok bermain musik). Didalam kelas minoritas yang mempunyai anggota sedikit, kami mencobanya. Dengan kemampuan yang benar benar minim, latihan pertama mencoba menyatukan jiwa. Segala genre kami coba dengan skill yang sangat minim. Hingga akhirnya kami merasa bersatu dengan sebuah lagu yang berasal jamaika. Kami menyanyikan sebuah lagu berjudul “Could You be Loved” milik seorang legenda bernama Bob Marley. Ketika sudah merasa menjadi satu kami mencari lagu lokal yang mempunyai genre yang sama. Sebuah tembang dari Imanez menjadi keputusan yang sangat bijaksana saat itu, “Anak Pantai” kami mainkan secara dalam dan mempesona ketika latihan di sebuah studio murah. Langsung saja kami membuat keputusan untuk menyanyikan dua tembang itu diatas panggung kelak. Sebuah keputusan yang sangat cerdas, karena beberapa lagu yang lainnya kami tak mampu menjadi jadi satu. Walaupun saya belum hafal liriknya tapi tetap kita mainkan. Walaupun kami tidak didukung teman sekelas kami, tapi hal ini kami lakukan demi reputasi kelas, karena kami mempunyai moto minoritas berkualitas. Ketika latihan yang ke sekian, kami mencoba bermain di studio yang agak mahal, alhasil disana kami ditanya “apa nama band kalian?” bingung dan tak tau apa-apa, sepersekian detik itu pula, muncul nama “TONO” di pikiran salah satu dari kami lalu tertulis dalam sebuah tabel di kolom tiga tepatnya nama “TONO”. Ketika kami bertanya kenapa “TONO”? teman kami menjawab, karena “TONO” adalah orang paling terkenal nomor dua setelah “Budi”, jika kalian memperhatikan ketika SD pasti juga akan merasakan hal yang sama, Budi dan Tono sama-sama bersaing untuk menjadi orang paling terkenal se-Indonesia dengan kiprahnya di sebuah buku berjudul “Pintar Berbahasa Indonesia”. Akhirnya hari yang tidak dinanti datang juga, ketika kelas kami dipanggil oleh panitia, kami sudah tak sabar untuk mengakhirinya. Ketika menginjakkan kaki ke atas panggung saja sudah salah, saya menjadi sangat grogi, ketika itu kaki kami yang pertama kali menginjak panggung adalah kaki kiri, seharusnya kaki kanan. Setelah mendapat sebuah mikropon, saya mengucapkan beberapa patah kata yang berdampak negatif, para penonton menjadi tidak tertib dan saling bersenggol-senggol didepan panggung yang belum kami kuasai, lalu salah satu dari kami berkata siap, rima seganas pantai menaklukan mereka, mereka gembira dengan apa yang kami bawa, dua detik setelah saya merasakan hal itu, saya berubah pikiran, saya tak mau mengakhiri atmosfer seperti ini, terus lakukan, kita gembira bersama sekarang. Penonton ber-sing along bersama saat saya tak menemukan arsip lirik itu di otak saya, ternyata membawakan lagu seorang legenda menyenangkan. Panitia hanya memberikan waktu sekitar lima belas menit, dan kami tidak mengetetahui hal itu karena pada saat technical meeting, salah satu dari kami tidak ada yang hadir. Lebih dari tiga puluh menit kami lewati karena kami me-medley dengan beberapa buah lagu milik Bob Marley. Setelah itu kami akhiri dengan terima kasih karena panitia telah mengusir kami dengan tidak kasih, dalam hati saya tetap asu walaupun saya berucap tengkyu!






