Tampilkan postingan dengan label balada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label balada. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2011

Misteri Angka 25 di Suatu Masa



25 adalah sebuah bilangan yang biasa-biasa saja dan bagi beberapa orang mungkin bilangan ini mempunyai sedikit keistimewaan. Dan sebuah keistimewaan itu pasti bersumber dari pengalaman orang dengan angka tersebut, atau bisa dikatakan pernah terlibat dengan bilangan tersebut, katakanlah pernah menjadi seorang juara ke 25 pada sebuah perlombaan bergengsi tingkat teritorial tersempit dengan jumlah peserta 25. Dan sejarah itu selalu terkenang, sehingga angka tersebut sangat berarti sekali bagi orang yang terlibat. Sebuah prestasi yang membanggakan tentunya ikut berpartisipasi dalam perlombaan itu, dan beruntungnya panitia penyelenggara selalu memberi apresiasi untuk semua peserta lomba. Sehingga walaupun demikian peserta yang tak disebutkan disini namanya itu selalu mengenang sejarah tersebut dan menganggap bahwa angka 25 itu adalah angka sakti untuknya.

Ketika seseorang menganggap angka 25 sebagai angka sakti, maka orang tersebut akan mengatakan semua keunggulan tersirat dari angka 25 yang hanya fiktif belaka dengan penuh rekayasa lalu mencoba menghubung-hubungkan dengan kejadian di lingkungan sekitar walaupun hal itu menyimpang. Bahkan dengan segenap harga dirinya akan mengatakan bahwa angka 25 adalah angka paling berpengaruh dalam hidupnya, entah apapun sebabnya pasti orang itu akan mempunyai pikiran seperti itu. Masih banyak lagi sebab dari seseorang menggemari angka 25. Bahkan jika diceritakan semuanya akan habis dibaca setelah 25 bulan, dan untuk penelitiannya bisa membutuhkan waktu yang tidak bisa dikatakan singkat, katakanlah 25 tahun. Kurun waktu selama itu mungkin merupakan seperempat masa hidup kita (jika beruntung). Oleh karena itu akan percuma menghabiskan masa muda demi kepentingan yang kurang penting itu.

Disebuah tempat yang berjarak sekurangnya 25 kilometer dari domisili tempat tinggal seseorang, seseorang yang lima tahun lagi akan berusia 25 tahun mempunyai cerita menarik tentang angka 25, dan setelah 25 menit narasumber berhasil dirayu oleh pewawancara akhirnya beliau mau berbagi cerita selama 25 menit. Percakapan ketika itu dimulai pada malam ke 25 di bulan april yang diawali dengan hisapan ke 25 dari batang rokok yang beliau hisap ketika itu. Berikut ringkasannya :

Sesungguhnya 25 adalah ibu dari angka, karena apapun operasi matematikanya bisa menghasilkan angka 25, sebagai contoh saya akan mengambil beberapa digit angka secara acak angka yang pertama adalah delapan ratus enam puluh satu ribu lima ratus dua puluh delapan dibagi dengan angka acak lagi yaitu tiga puluh empat ribu empat ratus empat puluh satu koma dua belas jika kita hitung operasi matematika tersebut maka akan menghasilkan angka dua puluh lima (25). Jika Anda masih kurang yakin, kita coba dengan angka yang kecil, kita ambil secara acak delapan lalu kita tambah dengan dua angka acak yaitu tujuh belas maka akan dihasilkan angka dua puluh lima (25). Kita coba dengan operasi pengurangan kita ambil tiga angka acak seratus dua puluh tiga lalu kita kurangi dengan angka sembilan puluh delapan, maka yang akan dihasilkan adalah angka dua puluh lima (25), jika Anda berpikir saya menipu Anda, sekarang juga ambil kalkulator Anda lalu lakukan instruksi yang saya berikan, yang pertama harus Anda lakukan adalah Anda harus menghidupkan kalkulator Anda terlebih dahulu, setelah itu pencet tombol [C] atau [CE] beberapa kali, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa Anda memulai operasi matematika dari angka nol (0), setelah itu pencet tombol [5][X]→[5]→[=] lalu apa yang Anda lihat pada layar kalkulator Anda? Ya, itu adalah angka 25, tanpa melihat kalkulator pun saya bisa tahu.

Demikian cerita dari narasumber. Semoga bermanfaat bagi Anda yang akan mempertimbangkan angka 25 sebagai angka yang menurut anda.

Minggu, 16 Januari 2011

Peringatan dari Makanan

 Makan adalah hal yang sangat menyenangkan, karena ketika proses makan, energi kita kembali terisi dan lidah kita dimanjakan oleh berbagai santapan yang sekiranya menggungah selera. Adalah sebuah pernyataan konyol jika seseorang menganggap makan itu menakutkan bahkan sangat merepotkan. Bukan pendapat yang salah sebenarnya karena pada kesempatan ini, penulis akan meluruskan tentang kegiatan tersebut.

Hidup di zaman krisis seperti ini, mendapatkan sesuap nasi memang sangat susah. Apalagi untuk memanjakan lidah, sungguh hal yang sangat sulit dilakukan di zaman ini, ketika harga beras melonjak tinggi, sesuap nasi menjadi sesuatu yang sangat sulit. Bahkan untuk mendapat sesuap nasi mereka menghalalkan segala cara. Jika menurut disiplin ilmu ekonomi, beras dapat ditukar dengan beberapa lembar kertas usang yang selalu berpindah tangan. Akan tetapi untuk mendapatkan kertas usang yang bernilai mahal itu butuh perjuangan yang bahkan tak terjangkau oleh nominal yang diharapkan.

Untuk mendapatkan sesuap nasi memang susah, karena ketika kita dihadapkan dengan hal itu pasti kita akan merasa tak cukup dengan sesuap nasi, dan pada akhirnya akan berakhir dengan bersuap-suap nasi. Ya, begitulah manusia, selalu merasa tak cukup dengan hal yang sudah diberikan.

cara untuk mendapatkan temperatur yang bersahabat
Pernahkah terbesit dihati, ketika kegiatan mengisi perut atau biasa disebut dengan makan, menjadi sangat menakutkan? Dan hal tersebut disebabkan bukan karena masalah finansial, atau bahkan racun yang terkandung dalam makanan. Dan perlu kalian ketahui, bahwa hal tersebut benar-benar terjadi di kehidupan modern ini. Percaya atau tidak, makan menjadi hal yang sangat merepotkan dan bahkan sangat beresiko tinggi.

Hal itu terjadi ketika seseorang perjaka yang ketika itu berada di sebuah ruangan dengan temperatur yang kurang bersahabat, menghalalkan segala cara untuk merasakan kesejukan diantara ruangan dengan temperatur yang kurang bersahabat, bahkan pemuda itu rela menunjukkan auratnya kepada tembok yang bisu dan beberapa perangkat elektronik dan non elektronik di ruangan tersebut, jika berbagai benda yang tak bisa disebutkan satu per satu tersebut mempunyai nyawa, atau bahkan mempunyai hawa nafsu, sudah pasti iman mereka goyah karena tubuh atletis pemuda itu. Namun karena bukan mahkluk hidup, sudah dapat dipastikan kiprah mereka hanyalah sebagai saksi bisu ketelanjangan si pemuda.

Langkah pertama yang harus dilakukan pemuda itu adalah memakai baju seperti orang pada umumnya, jika hal ini tidak dilakukan maka akan menimbulkan beberapa bahkan lebih dari beberapa fitnah orang-orang sekitar yang juga mahkluk hidup dengan nyawa dan mempunyai hati nurani. Tak begitu sulit sebenarnya untuk memakai baju, akan tetapi bisa menjadi sangat sulit ketika si pemuda itu bukanlah seorang pemuda yang wajar sebagai pemuda, misalnya pemuda itu masih berumur dibawah lima tahun atau mungkin hal lain yang kurang pantas disebutkan sehingga tidak akan pernah disebutkan disini seperti misalnya pemuda itu mempunyai kelainan yang tidak lain adalah lain sebagainya. Jika hal tersebut sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Maka setelah ini akan tidak timbul fitnah-fitnah dari orang-orang sekitar.

Membuka kunci pintu, lalu membuka pintu dan diteruskan dengan menutup pintu itu kembali dan juga mengunci pintu yang telah disebutkan sebelumnya itu lagi. Memastikan bahwa ruangan tersebut sudah benar-benar aman dan benar-benar tidak mengundang kejadian kriminal jika ruangan tersebut ditinggalkan, merupakan tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa ruangan tersebut memang sudah benar-benar aman atau tidak. “Kejahatan itu terjadi bukan karena ada niat dari pelakunya, tapi karena kesempatan, waspadalah waspadalah!” (Bang Napi). Kutipan tersebut memang benar dan patut untuk diteladani, dikutip dari sebuah berita kriminal dari sebuah stasiun televisi swasta ternama di Indonesia. Jadi jangan beri kesempatan untuk pelaku kriminal berbuat kriminal.

Setelah sudah dapat dipastikan aman, maka tiba waktunya untuk meninggalkan ruangan itu. Ingatlah setiap centimeter dari jalan yang kita lalui mempunyai resiko-resiko yang tak terduga, karena biasanya bencana itu terjadi tanpa sepengetahuan kita dan tanpa rencana kita. Kita tak tahu apa yang akan terjadi ketika itu. Bahkan tidak menutup kemungkinan hanya gara-gara lantai yang sedikit basah, kita bisa mengalami kematian.

Jika mungkin berada bukan di lantai dasar, perhitungan secara matematis sangatlah diperlukan, untuk menuruni anak tangga yang jumlahnya tak sedikit, karena apabila perhitungan kita meleset sepersekian mili saja bisa sangat fatal, karena sebuah kecelakaan biasanya terjadi tanpa toleransi. Akan tetapi hal ini bisa diatasi dengan membiasakan diri melintasi tangga tersebut, mungkin membutuhkan latihan berhari-hari supaya kita bisa paham dan mengerti celah-celah aman dari tangga tersebut.

Setelah melalui berbagi tahap yang penuh dengan bahaya tersebut, pemuda itu masih harus berjalan lagi, dan lebih parahnya lagi banyak resiko-resiko yang tak terduga lagi, misalnya ketika pemuda itu berada di persimpangan yang membingungkan, pemuda itu harus menggunakan nalurinya untuk mencapai sebuah tempat makan yang ditujunya. Jika pemuda itu salah langkah, maka dapat dipastikan dia akan salah arah, dan tidak akan pernah menemukan tujuan perjalanannya. Dan yang lebih parahnya lagi, pemuda itu bisa kehilangan masa depannya. Sangat manusiawi jiak pemuda itu berpikir makan adalah hal yang sangat beresiko bahkan menakutkan.

Dikota yang penuh sesak ini, pejalan kaki sudah tidak diberikan ruang lagi untuk berjalan dengan nyaman dan aman. Para pengendara motor atau bahkan para penikmat barang mewah itu telah memadati jalan raya, yang paling tragis adalah ketika pengendara motor mengambil jalan milik pejalan kaki atau akrab dengan sapaan trotoar. Tidak hanya itu, emosi mereka yang meluap-luap membuat mereka semakin ganas di jalan raya. Kata-kata bajak laut terkumandang kesana kemari akibat emosi mereka yang tidak bisa diredam. Bahkan untuk menyeberang jalan saja bisa dihujani maki-makian para pengguna jalan yang konon menghargai waktu itu.

Itulah kronologis yang harus dilakukan pemuda itu untuk mendapatkan sepiring makanan, akan tetapi karena sudah terbiasa dan sering melakukan latihan, maka kegiatan makan yang sangat beresiko tinggi itu dapat dilalui dengan wajar dan normal. Tanpa ada kecelakaan dan kerugian. Sedikit merepotkan memang, tapi itulah fakta di kehidupan sekarang ini.
 

Minggu, 19 Desember 2010

Mengubah Cerita di Masa Depan dengan Spontan

Ketika usai adzan berkumandang, telepon seluler dengan sangat nyaringnya memecah keheningan ketika umat islam khusyuk beribadah disebuah masjid. Sedikit acuh tak acuh dan tidak menyimak apa yang terjadi terhadap telepon seluler ketika itu. Dalam sebuah layar flatron serius membangun sebuah cita-cita saat yang sama dengan menekan secara bergantian papan tombol secara spontan, tidak terencana dan selaras antar hurufnya. Didalam sebuah jendela lain muncul sebuah pesan disebuah kotak obrolan dari seorang teman, bingung adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi ketika itu. Dengan sedikit khawatir diterimalah sebuah tawaran tersebut. 

Membasuh tubuh yang belum terbasuh selama sekurangnya empat puluh delapan jam adalah awal dari sebuah perjalanan spontan ini. Tujuan yang belum diketahui oleh penulis, biaya yang belum terperinci, menjadikan kesan spontanitas dari hal perjalanan ini kian mantab. Setelah basah lalu dibilas, berganti pakaian yang lebih wangi adalah keputusan yang bijaksana. Setelah semuanya terlihat layak, tidak lupa mengkunci kamar. 

Dari sebuah simpang terlihat sesosok besi berjalan yang dikendalikan oleh pengendali besi, ternyata itu adalah kendaraan yang akan mengantar kami semua ke sebuah tempat yang akan kami kunjungi. Dengan sedikit khawatir, penulis masuk dan mengamati situasi sekitar. Mengamati obrolan yang sedang dibahas, beberapa menit berikutnya kalimat pertama untuk penulis terucap.

Berputar-putar mengitari aspal yang membalut jalan. Lalu setelah berputar-putar, akhirnya kami masuk kedalam sebuah gang yang sangat asing di mata penulis. Sebuah gang sempit yang hanya bisa menerima satu kendaran untuk hilir mudik, dengan sangat terpaksa kami masuki. Dan akhirnya sampailah disebuah rumah salah satu penumpang, kami turun bersama. Dan akhirnya bermacam-macam makanan keluar secara bergantian, kontinyu hingga berhenti pada sebuah momen dimana kami menyebutnya setelah babak ketiga, berawal dari rencana mengambil perangkat pengabadi gambar yang mutakhir, berakhir dengan penuhnya isi perut. Dan perjalanan berlanjut.

Disebuah Rest Area kami beristirahat sejenak untuk menunaikan ibadah bagi yang menunaikannya, dan menghisap beberapa batang rokok berbagai brand ternama bagi yang merokok, sementara bagi yang tidak merokok, mencoba mengabadikan momen ini dengan mengabadikan gambar di tempat ini. Mereka tersenyum dan berusaha tampil prima dihadapan sebuah kamera. Bukan hanya itu, mereka yang tidak merokok juga mengizinkan yang merokok untuk bergabung bersama seraya tersenyum atau berpose sesuai selera masing-masing.

Percakapan kian mengikis malam, tenggelam kami dalam wacana yang tak tentu arahnya, didalam kendaraan yang mengangkut kami. Ketika disebuah tol yang disana berkembang mitos menyeramkan, seseorang yang mempunyai jenis kelamin tidak sama dengan penulis, berteriak protes karena takut dan jemu mendengar mitos yang mengganggu itu.

Lalu kami mulai bosan dengan berada di tempat yang telah disebutkan sebelumnya itu. Tanpa pikir panjang kami melanjutkan perjalanan itu, setelah kami masuk benda yang bisa berjalan ini, kami bercengkerama bersama hingga sampai pada suatu titik yang namanya titik titik.
kegiatan di rest area bagi yang tidak merokok

ini bagi yang merokok

bagi yang tidak memfoto
  

bersambung di bercengkerama selanjutnya...

Senin, 06 Desember 2010

Perjalanan Panjang yang Dijalani Berjalan Ditempat bagian 2


Sebuah diskusi serius kami lakukan untuk memperoleh hasil akhir yang maksimal dan memuaskan. Dengan sedikit terburu-buru karena hari sudah larut, akhirnya diputuskan juga sebuah keputusan yang akhirnya menjadi kesepakatan bersama. Yaitu menggunakan sarana transportasi umum. Sebuah kendaraan umum yang mempunyai argometer yang untuk mempersingkat cerita selanjutnya kami sebut taksi  yang lewat ketika itu kami hadang, terjadi tawar menawar yang hampir memakan korban ketika itu. Karena tarif taksi yang tak sesuai selera kami mencari alternatif lain dan hal tersebut hampir saja menuai korban berupa uang saku kami.

Sebuah tindakan yang bijaksana, memberhentikan sebuah kendaraan umum yang selalu dijumpai disetiap sudut kota berlabel 24 atau mungkin bisa juga disebut kendaraan roda empat yang mempunyai plat nomor berwarna kuning dan mempunyai label 24 atau angkot 24 supaya tidak bingung. Hal itu adalah alternatif yang benar-benar sesuai dengan keadaan kantong kami yang kian lapar. Ternyata sopir dari angkot itu sangat tidak mahir, berulang-ulang kali mesin angkot mati. Setelah mesin mati berkali-kali mesinpun juga hidup berkali-kali. Lalu setelah keduanya berkali-kali, akhirnya kami mencapai sebuah simpang, yang kata orang-orang disana tempat ini disebut dengan Slipi.
Sebuah forum diskusi kami buka kembali di tempat yang asing bagi kami ini, saat ini topiknya sedikit berbeda tapi masih mempunyai kemiripan dengan forum diskusi sebelumnya. Kami menyuruh orang sekitar untuk berpartisipasi dalam forum diskusi kami. Bermacam argumen kami terima, dan akhirnya kami juga yang menyimpulkan. 

Kesimpulan : ternyata tempat kami ketika itu memang benar-benar diberi nama Slipi oleh Pemerintah setempat, dan kami akhirnya juga terpengaruh untuk menyebut tempat kami ketika itu dengan sebutan yang sama dan tidak berbeda yaitu Slipi. Jika kita ingin ke tempat yang telah disebutkan sebelumnya kami harus mencari sebuah kendaraan berukuran besar yang dapat mengangkut puluhan orang dan menggunakan bahan bakar solar lalu di kaca depannya terdapat stiker yang terdiri dari beberapa huruf terangkai secara sengaja oleh pembuat stiker sehingga membentuk sebuah kata yang berarti sebuah julukan untuk sebuah tempat atau sapaan akrab sebuah tempat yang dituju oleh kendaraan tersebut, jika kalian bingung sebut saja bus  jurusan Grogol.

Saya senang mereka mau berpartisipasi di forum diskusi kami. Walaupun kami harus aktif tapi informasi mereka sangat berharga. Kami bergantian untuk memancing mereka mengemukakan pendapat mereka. Tentunya dengan kalimat yang sama dan tak jauh berbeda “Maaf Bang/Pak/Bu kalau dari sini mau ke Kelapa Gading naik apa ya?”. Dan tanggapan mereka hampir sama.

Tepatnya kurang tahu, akhirnya kami punya kemampuan untuk memberhentikan bus yang dimaksud yang telah disebutkan sebelumnya oleh peserta forum diskusi kami yang sangat aktif dan terampil dalam melakukan dialog. Bukan hal yang mudah untuk memberhentikan kendaraan itu, karena dijalan yang sangat ramai, dan beruntungnya salah satu dari kami berani mengambil resiko. Dengan modal mental yang sangat dahsyat, tangan kiri diangkat membentuk sudut siku-siku, lalu menggoyangkan telapak tangan keatas kebawah setiap ada bus yang dimaksud lewat. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan, karena apabila sudut antara lengan tangan dan badan tidak membentuk sudut siku-siku sopir bus tersebut enggan untuk berhenti, mungkin dimata mereka terdapat alat pendeteksi sudut siku-siku. Yang lebih hebatnya lagi mereka hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk mengetahui apakah itu sudut siku-siku atau tidak. Berkali-kali kami gagal, mungkin karena sudut yang kami buat belum 90˚. Setelah kesekian kalinya kami gagal membentuk sudut siku-siku, ada seseorang yang sepertinya juga mempunyai tujuan hampir sama dengan kita. Sungguh mengagumkan, orang itu mampu membentuk sudut siku-siku sempurna hanya dengan sekali mencoba. Dan karena kendaraan tersebut berhenti akhirnya kami pun ikut masuk kendaraan bersama orang yang sangat mahir membuat sudut siku-siku tersebut. 

Sebuah pemandangan yang paling mudah dijumpai, suasana penuh sesak. Dalam kendaraan yang besar itu kami bersaing untuk mendapatkan udara segar. Menurut disiplin ilmu yang pernah saya pelajari, pelanggan adalah raja, tapi dalam kotak besi yang mampu berjalan ini sungguh sangat tidak berlaku. Disini pelanggan adalah korban ruang minim oksigen. Fasilitas yang kami dapatkan adalah besi yang saya yakin mengandung banyak bakteri untuk berpegangan supaya kami tak semakin menjadi korban. Beberapa meter pertama sudah sedikit beradaptasi dengan keadaan, beberapa meter kemudian benda ini berhenti lagi untuk menaikkan calon korban lagi. Memang benda ini mempunyai kharisma yang sangat dahsyat, tak perlu dengan merayu, cukup berhenti korban pun berdatangan.
Selang beberapa menit yang terasa sangat lama, benda ini berhenti dan hampir semua orang turun di tempat yang dijadikan tempat berhenti kotak berjalan itu. Kami sangat senang karena akhirnya kami bisa merasakan kursi usang yang terlihat menggoda. Kami duduk bersebelahan dan bersaing untuk mencela keadaan yang baru mereka jalani. 

Terdapat beberapa hal yang menjemukan didunia ini, bahkan apabila disebutkan satu persatu akan memakan waktu berhari-hari untuk menghafalkannya. Karena hal yang menjemukan orang yang satu dengan orang yang satunya lagi berbeda. Jadi mereka mendefinisikan jemu sesuai dengan pandangan mereka masing-masing. Jika satu orang mempunyai satu persepsi tentang definisi jemu, hitung saja berapa definisi jemu versi pribadi yang ada didunia, lalu setelah itu, mereka menyebutkan tindakannya, jika satu orang menyebutkan dua, tinggal dikalikan dua dari jumlah populasi didunia atau dikalikan dua dengan jumlah persepsi orang tentang jemu. Pasti jika dihitung sangat memakan waktu, apalagi untuk menulis dan membacanya? Akan lebih memakan waktu berlipat-lipat.  Bayangkan jika semua hal itu disebutkan dengan berbagai bahasa yang berbeda. Cukup bayangkan saja, akan menjadi buku yang sangat tebal jika dibukukan. Dan mungkin bisa menjadi bacaan yang membosankan untuk dibaca, bahkan dengan membayangkannya saja sudah bosan apalagi selain membayangkan pasti rasanya akan sangat berat sekali. Dan hal menjemukan yang sedang kami jalani sekarang ini adalah menunggu. Kami menunggu sangat lama. Bahkan jam yang ada di bus itu terlihat bosan dan penat, karena kami pandangi secara terus menerus secara bergantian dan kontinyu. Ternyata si pengendali kotak besi ini sedang menikmati sebatang rokok, kami tak mau kalah, kami juga punya benda seperti itu, bahkan lebih mahal. Setelah itu kami juga masih menunggu. Hingga akhirnya menunggu pun juga mulai bosan dan akhirnya saya waiting. 

Penulis juga akan mengajak pembaca untuk menunggu, dimana penulis diwajibkan menunggu akhir cerita dari balada ini. Silahkan tunggu untuk lanjutan cerita dari perjalanan ini.


segera terbit kelanjutan cerita...